Dibangun oleh Ken Budha Kusumandaru untuk Perwakilan Indonesia pada ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights Januari 2015 Follow @kenndaru Like my FB page https://www.facebook.com/Shangrila.TheHiddenCity

Siaran Pers: Dalam Rangka Memperingati HAM 2015 dan Masyarakat ASEAN: Memajukan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, serta Memelihara Toleransi di ASEAN

Pemutaran Film & Diskusi Publik ke-5 mengenai HAM di ASEAN

7 Desember 2015
Erasmus Huis Jakarta

Melalui Deklarasi HAM ASEAN (AHRD) dan Pernyataan Phnom Penh mengenai Pengesahan AHRD, ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama. Segala bentuk intoleransi, diskriminasi, dan penyulutan kebencian atas dasar agama dan kepercayaan harus dihapuskan (Pasal 22). Sehingga, AHRD tidak hanya mengakui kebebasan beragama dan berkeyakinan di ASEAN, sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manunisa (DUHAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun juga mengajak untuk menghapus segala intoleransi, diskriminasi dan segala bentuk kekerasan berdasarkan agama. Bapak Rafendi Djamin menggarisbawahi hal tersebut saat membuka acara Diskusi Publik dengan tema “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, serta Tantangan Intoleransi di ASEAN”.

IMG 6761

Sebagai Wakil Indonesia untuk Komisi Antar-Pemerintah ASEAN untuk HAM (AICHR), Bapak Rafendi Djamin menjadi tuan rumah dari Diskusi Publik yang kali ini diselenggarakan dengan perayaan Hari HAM, yang jatuh pada tanggal 10 Desember setiap tahunnya. Acara ini diadakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan para pemangku kepentingan di tingkat nasional serta masyarakat umum mengenai isu-isu HAM tertentu yang menjadi perhatian ASEAN sebagai satu kawasan. Acara ini dihadiri oleh lebih dari sembilan puluh (90) peserta – yang berasal dari institusi pemerintahan, institusi-institusi HAM di tingkat Nasional (NHRIs), pelajar dan akademisi, LSM nasional dan regional, serta anggota dari korps diplomatik di Jakarta.

Sebelum acara Diskusi dimulai, peserta disuguhkan dengan pemutaran ‘Timbuktu’ – sebuah film yang berdasarkan peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi akibat ekstremisme agama, dan dinominasikan untuk ‘Film Berbahasa Asing Terbaik’ dalam ajang Academy Awards 2015.

IMG 6757

Diskusi kali ini mendatangkan pembicara tamu terhormat Y.M. Abdurrahman M. Fachir, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, serta Prof. Dr. H.M. Machasin, MA, Direktur Jenderal Bina Masyarakat Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Kedua pembicara menggarisbawahi bagaimana toleransi di dalam masyarakat pluralis telah membentuk dan menyatukan Indonesia sebagai suatu bangsa. Selain itu, Indonesia telah berperan aktif di tingkat internasional dalam mempromosikan dialog antar agama dan intra agama – untuk menjaga, di antaranya, toleransi dan kebebasan untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan. Karakteristik negara yang mejamuk memang harus siap dalam menghadapi tantangan-tantangan intoleransi dan kekerasan yang muncul, baik di Indonesia maupun di ASEAN. Pada era sosial media, para pembicara pun menghimbau para generasi muda untuk menyoroti hal-hal positif dalam postingan dalam sosial media untuk menjunjung toleransi di masyarkat.

Dalam lingkup ASEAN, Bapak Rafendi Djamin menyoroti Indonesia yang telah aktif mengedepankan isu kebebasan beragama dan berkeyakinan untuk dijadikan suatu isu prioritas di AICHR. Selanjutnya, implementasi dari 'Pasal 22 dari AHRD tentang Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan' telah disahkan sebagai bagian dari Program/Kegiatan Prioritas AICHR untuk tahun 2016, dimana Indonesia menjadi negara yang akan mengimplementasikan program tersebut. Program ini akan sejalan dengan Visi Masyarakat Politik dan Keamanan ASEAN 2025: Menanamkan budaya perdamaian, termasuk nilai-nilai toleransi dan kesederhanaan sebagai kekuatan dalam keseimbangan, perdamaian, dan stabilitas di kawasan dan di luar kawasan”. Diharapkan juga, poin-poin hasil diskusi dapat dijadikan referensi bagi Perwakilan Indonesia untuk AICHR dalam memformulasikan konsep program tersebut.

 

 

IMG 6771

Acara diskusi ini adalah yang ke-5, sekaligus yang terakhir dari rangkaian Diskusi dan Debat Publik tentang HAM di ASEAN – sebuah kerjasama antara Wakil Indonesia untuk AICHR dengan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Bagi Bapak Rafendi Djamin, acara ini merupakan yang terakhir baginya dalam kapasitasnya sebagai Wakil Indonesia untuk AICHR, sebelum menyelesaikan mandatnya. Beliau menyampaikan apresiasinya kepada Y.M. Rob Swartbol, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, dan juga Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, atas kerjasama yang konstruktif dan bermanfaat dalam menyelenggarakan rangkaian Diskusi dan Debat Publik, serta dukungannya bagi AICHR Indonesia.

*******

 

Facebook Posts

ASEAN Youth Art